Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Tuesday, February 22, 2011

Deteksi Patah Semangat Bisa dari Air Ludah.

Stres yang
berkelanjutan bisa memicu
burnout atau kehilangan semangat
hidup, yang seringkali didagnosis
sebagai gejala depresi. Untuk
membedakan burnout dengan
depresi, cara paling akurat adalah
memeriksa komposisi air ludah di
pagi hari.

Padamnya semangat hidup alias
burnout tidak bisa dipandang
remeh karena sangat
mempengaruhi produktivitas
seseorang. Namun penanganan
burnout sering tumpang tindih
dengan depresi, sehingga tidak
tertangani dengan baik dan kadang
malah memburuk.

Keduanya memang memiliki gejala
yang hampir sama misalnya
kurang motivasi dan tidak
bergairah, karena burnout pada
dasarnya terjadi akibat depresi
kronis yang tidak tertangani.
Namun dilihat dari kondisi
hormonal yang mempengaruhi,
keduanya memiliki perbedaan yang
mendasar.

Depresi ditandai dengan
peningkatan kadar kortisol, yang
dikenal juga sebagai hormon stres.
Sebaliknya ketika depresi itu
berkembang hingga memasuki
fase burnout, produksi kortisol
justru mengalami penurunan
hingga level yang sangat rendah.

"Perbedaan kadar kortisol terjadi
karena kondisi itu psikologis
mempengaruhi sistem pengaturan
hormon pada tubuh manusia,"
ungkap peneliti masalah kejiwaan
dari Louis-H Lafontaine Hospital, Dr
Sonia Lupien seperti dikutip dari
Health.

Tanpa deteksi yang akurat, gejala
burnout sering tidak tertangani
dengan tepat. Karena dikira masih
depresi, seseorang yang
mengalami burnout sering
mendapat antidepresan yang
fungsinya adalah menurunkan
kadar kortisol. Padahal pada fase
burnout, kadar kortisol sudah
sangat rendah.

Deteksi yang diklaim paling akurat
dikembangkan baru-baru ini oleh
tim gabungan dari Louis-H
Lafontaine Hospital dan University
of Montreal, Kanada. Para ahli
dalam penelitian itu menggunakan
air ludah yang diambil pada pagi
hari, karena diyakini paling
mewakili kondisi hormonal
seseorang.

Metode yang dikembangkan dalam
penelitian itu telah dibuktikan
akurasinya pada sekitar 30 relawan
paruh baya yang mengalami
berbagai gangguan kejiwaan yang
meliputi stres, depresi dan
burnout. Pemeriksaan kadar
kortisol melalui air ludah pada pagi
hari menunjukkan hasil yang
sesuai dengan hasil tes darah
maupun psikotes.

Lewat Sidik Jari,Bisa Menganalisis Gaya Asuh Orang Tua.


Selama ini analisis sidik jari digunakan untuk mengetahui bagaimana tipe gaya belajar seorang anak. Kini sidik jari juga bisa digunakan untuk menganalisis tipe gaya asuh dari orangtua. "Dalam mengasuh anak, kadang ibu memberikan stimulasi atau pendekatan yang belum tentu sesuai dengan kondisi anaknya. Hal ini karena ibu belum mengetahui gaya asuh diri mereka sendiri," ujar Efnie Indrianie, MPsi, seorang psikolog anak dari Psychobiometric dalam acara Inovasi Sidik Jari Cerdas Frisian Flag 2011 Bantu Ibu Berikan Stimulasi Optimal untuk si Kecil di Giggle FX Jakarta.

Efnie menuturkan terkadang ibu-ibu merasa kesal karena anaknya susah sekali menuruti kemauannya, misalnya ibu dengan gaya asuh responsif cenderung mengikuti tren yang ada padahal belum tentu sesuai dengan potensi si anak itu sendiri. "Dengan mengetahui seperti apa gaya asuh yang dimiliki, maka seorang ibu lebih mudah dalam mengkombinasikan atau menyesuaikan dirinya dengan si anak sehingga pengembangan potensi anak menjadi lebih optimal," ungkapnya.

Untuk mengetahui sidik jari orangtua ini caranya ibu atau ayah diambil sidik jarinya. Kemudian dianalisa dengan komputer untuk menentukan diagnosanya. Dari hasil guratan sidik jari tersebut bisa terlihat tipe gaya asuhnya. Psikolog yang akrab disapa Pipin ini menuturkan ada 4 tipe gaya asuh dari orangtua berdasarkan sidik jari yaitu:

* Gaya asuh alamiah (natural)
Tipe ini cenderung lebih banyak memberikan kebebasan pada anak dan mengikuti alur perkembangan si kecil tanpa memberikan batasan- batasan yang tegas, misalnya anak mau sekolah musik ibunya selalu menuruti. Tapi kelemahan dari gaya asuh ini anak cenderung memiliki manajemen batas yang rendah, misalnya sulit untuk memanage waktu.

* Gaya asuh membimbing (nurturing)
Tipe ini cenderung memiliki pola pengasuhan tertentu dan batasan-batasan yang jelas terhadap anak, mislanya kapan anak harus mandi, kapan waktunya mengerjakan PR atau berapa nilai yang harus dimiliki oleh anak di sekolah. Namun gaya asuh ini berbeda atau tidak sampai menjadi otoriter, karena orangtua cenderung mengarahkan anaknya. Jika anaknya memiliki tipe organize (teratur) maka tipe ini bisa saja diterapkan dengan baik, tapi jika anaknya cenderung fleksibel ibu biasanya lebih sering marah-marah dan anak bisa saja menjadi stres.

* Gaya asuh responsif
Tipe ini cenderung mudah mengambil keputusan yang berhubungan dengan anak dan biasanya mengikuti tren atau sesuatu yang baru, misalnya lagi tren les aritmatika maka anaknya diikutsertakan. Jika anaknya memang suka matematika maka hal ini akan bermanfaat untuk anak, tapi jika tidak sesuai dengan potensi atau gaya belajar anak maka bisa saja memicu stres anak.

* Gaya asuh analitis (analytical)
Tipe ini cenderung memiliki banyak pertimbangan atau lama mikir dalam memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan anak, karena ia tidak mudah mengambil keputusan. Misalnya saat anak mau masuk sekolah maka ia mensurvei beberapa sekolah sendiri untuk tahu kelebihan dan kekurangan sekolah itu, teliti dalam memberikan cemilan atau makanan untuk anak, serta tidak
mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain. "Satu hal yang pasti tidak ada pola asuh yang benar atau salah. Tapi jika ibu tahu gaya asuh seperti apa yang dimilikinya, maka ia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan anaknya," ungkap psikolog yang menjadi Kepala Bidang Kajian Psikologi Perkembangan Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Setiap anak memiliki perilaku, karakter dan bakat yang berbeda-beda. Untuk gaya belajar ada anak yang lebih unggul dalam hal visual, auditory atau kinestetik. Sedangkan kemampuan anak dalam mengeksplor sesuatu ada yang memiliki tipe realistis (harus diperlihatkan secara langsung benda-benda nyata), imajinatif (senang menggunakan analogi), observasi (mudah belajar dengan cara mengamati) serta eksperimen (harus uji coba terlebih dahulu dalam belajar). "Analisis gaya asuh melalui sidik jari ini tidak hanya untuk para ibu saja tapi juga berlaku untuk ayah atau single parent. Selain itu hasil analisisnya memiliki tingkat akurasi 87,91 persen dan bersifat permanen," ujarnya.















Rumput Laut Bisa Untuk Obat Malaria.

Rumput laut telah digunakan
selama berabad-abad untuk
mengatasi bisul, luka dan
meningkatkan kekebalan. Kini
ilmuwan menemukan bahan kimia
dalam tanaman tersebut memiliki
sifat sebagai anti-malaria pada
manusia.

Malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh parasit dari
Plasmodium falciparum yang
disebarkan oleh nyamuk. Parasit
tersebut kini sudah kebal (resisten)
terhadap obat antimalaria yang
banyak digunakan saat ini
termasuk pada obat aratemisinin.

Jika hasil temuan ini benar-benar
bisa digunakan, maka tanaman
rumput laut akan dikembangkan
sebagai salah satu obat anti-malaria
yang dapat digunakan pada
manusia.

Para peneliti dari Georgia Institute
of Technology menuturkan bahwa
kelas dari senyawa yang
terkandung dalam rumput laut
yang disebut bromophycolides
bisa digunakan atau berpotensi
sebagai obat anti malaria.

"Molekul-molekul ini memberikan
petunjuk yang mengarah pada
pengobatan malaria, dan mereka
bekerja melalui suatu mekanisme
yang menarik untuk kita pelajari,"
ujar Dr Julia Kubanek, seperti
dikutip dari Dailymail, Selasa
(22/2/2011).

Bahan kimia ini telah diujikan
terhadap malaria dalam skala
laboratorium. Langkah berikutnya
peneliti akan melakukan pengujian
terhadap hewan percobaan tikus
yang diberi penyakit malaria. Para
peneliti telah mengungkapkan studi
ini dalam American Association for
the Advancement of Science di
Washington DC.

"Rumput laut memang tidak
memiliki respons imun seperti
yang dilakukan manusia. Tapi
rumput laut memiliki beberapa
senyawa kimia di dalam
jaringannya yang berfungsi untuk
melindungi mereka, karenanya ia
akan menghambat masuknya
mikroba yang dapat menyerang
dan menyebabkan penyakit,"
ungkap Dr Kubanek.

Rumput laut adalah sejenis
ganggang dan dikonsumsi oleh
banyak orang di seluruh dunia
seperti untuk sup atau sushi.
Dalam pengobatan herbal rumput
laut biasanya digunakan untuk
mengobati arthritis, pilek, flu dan
masalah cacing.

Sunday, December 12, 2010

Diet Cacing Demi Tubuh Langsing

Banyak
wanita melakukan
program diet demi tubuh
yang langsing. Mulai dari
diet sehat hingga
pelangsingan tubuh
ekstrim, dan cenderung
membahayakan
kesehatan.
Coba lihat supermodel
Tyra Banks. Dia sengaja
membuat tubuhnya
'cacingan'. Tyra
melakukan diet cacing
pita demi mengamankan
lemak di tubuhnya.
"Dengan memelihara
parasit di tubuhmu,
Anda bisa makan
sesukanya tanpa takut
gemuk," kata Tyra
dalam setiap
kampanyenya.
Ia menambahkan, satu
cacing pita di
pencernaan bisa
menurunkan bobot
tubuh satu hingga dua
kilogram setiap minggu.
"Tak perlu takut makan
makanan berkalori
tinggi," kata selebriti
yang memasarkan
cacing pita untuk diet di
pasaran.
Tyra agaknya tak peduli
peringatan dari Badan
Pengawas Obat dan
Makanan di Amerika
Serikat (Food and Drug
Administration/FDA)
atas bahaya diet itu. Ada
fakta menyeramkan
tentang cacing tersebut.
Cacing itu dapat tumbuh
hingga 25 kaki, sehingga
bisa menyebabkan
kejang, meningitis atau
demensia.
Pada dasarnya, diet
cacing pita ini sangat
tidak dianjurkan. Sebab
Anda harus menelan
parasit cacing pita, yang
dapat Anda temukan
dalam kotoran hewan,
daging yang dimasak
tidak matang, atau
terinfeksi.
Melakukan diet ini
memang bisa
memengaruhi sistem
pencernaan Anda,
karena cacing akan
menyerap nutrisi di usus.
Diet ini juga sangat
berbahaya karena bisa
memperburuk kondisi
kesehatan Anda.
"Ini adalah ide yang gila,
cacing pita adalah
parasit berbahaya yang
dapat menyebabkan
masalah kesehatan
serius. Diet ini bukan
cara terbaik
menurunkan berat
badan. Bahkan di AS,
cacing pita
diperjualbelikan secara
ilegal," kata ahli gizi, Joy
Bauer.